Bayangkan seorang anak yang duduk di kelas, berusaha keras mengikuti pelajaran. Teman-temannya tampak cepat memahami huruf-huruf atau angka yang diajarkan, tapi baginya, huruf terasa seperti menari dan angka berlarian. Ada yang kesulitan membaca, ada pula yang tak bisa bertahan fokus lebih dari beberapa menit. Bagi anak dengan ADHD atau disleksia, pengalaman belajar bisa terasa berat dan penuh tantangan.
Di sinilah terapi remedial hadir. Banyak orang tua mendengar istilah ini dan langsung membayangkan “pengulangan pelajaran” semata. Padahal, terapi remedial jauh lebih luas. Ia bukan sekadar mengulang, tapi memberikan anak cara baru untuk memahami, mengingat, dan merasa percaya diri saat belajar.
Apa Sebenarnya Terapi Remedial Itu?
Terapi remedial adalah bentuk intervensi pendidikan yang membantu anak mengatasi kesulitan belajar. Fokusnya memang pada materi-materi yang sulit, tetapi dengan pendekatan berbeda. Pada anak disleksia, misalnya, pengulangan dilakukan menggunakan metode multisensoris: anak diajak membaca dengan melihat, mendengar, menulis, bahkan meraba. Semua panca indera dilibatkan agar huruf dan kata tidak lagi “kabur” di benak mereka. Sementara itu, pada anak dengan ADHD, terapi remedial bisa berarti memecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil, melatih fokus dengan teknik tertentu, dan memberikan suasana belajar yang tidak membuat mereka cepat jenuh.
Mengapa Penting untuk Anak ADHD dan Disleksia?
Anak dengan ADHD atau disleksia sering merasa tertinggal. Bukan karena mereka tidak pintar, melainkan karena cara otak mereka memproses informasi berbeda. Terapi remedial hadir untuk menjembatani perbedaan itu.
- Mengurangi rasa frustrasi. Anak belajar tanpa merasa “gagal” terus-menerus.
- Meningkatkan rasa percaya diri. Mereka menyadari bahwa mereka mampu, hanya butuh cara yang sesuai.
- Membantu orang tua dan guru. Dengan terapi, orang dewasa juga belajar strategi mendampingi anak.
Terapi yang Ramah, Bukan Tekanan
Hal terpenting dari terapi remedial adalah suasana yang ramah. Anak tidak dipaksa mengulang dengan cara lama yang membuatnya bosan atau tertekan. Sebaliknya, pengulangan disesuaikan dengan kebutuhan: lebih kreatif, lebih praktis, dan lebih menyenangkan.
Dengan cara ini, anak bukan hanya mengejar materi akademik, tetapi juga belajar bahwa dirinya berharga dan mampu berkembang.
___
Terapi remedial mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya besar. Bagi anak dengan ADHD maupun disleksia, ini adalah jembatan menuju pemahaman yang lebih baik, pengalaman belajar yang lebih positif, dan rasa percaya diri yang lebih kuat.
Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya agar anak bisa membaca atau berhitung. Tujuan sejatinya adalah membuat mereka percaya bahwa mereka mampu, dengan caranya sendiri.
Jika ayah-bunda ingin bertanya lebih lanjut mengenai Terapi Remedial, jangan sungkan hubungi kami dengan klik di sini!