Perbedaan Screening Test VS Diagnostic Test Pada Disleksia

Test Pada Anak Disleksia

Hari ini, masyarakat semakin mudah mengakses informasi dan alat bantu pendidikan. Orang tua dan guru dapat menemukan berbagai screening test disleksia secara cuma-cuma di internet. Kondisi ini membantu banyak orang tua dan guru untuk lebih waspada terhadap kesulitan belajar anak.

Namun di sisi lain, masih banyak orang tua dan guru yang keliru memahami perbedaan antara screening test dan diagnostic test pada disleksia. Agar tidak salah langkah, orang tua dan guru perlu memahami fungsi masing-masing tes, serta waktu dan cara menggunakan keduanya secara tepat.

Apa Itu Screening Test pada Disleksia?

Uji screening (screening test) berfungsi sebagai alat skrining awal. Tes ini membantu melihat apakah seorang anak berisiko atau tidak berisiko mengalami disleksia. Screening test tidak memberikan diagnosis, melainkan indikasi awal. Saat ini, orang tua dan guru dapat melakukan screening test secara mandiri melalui platform daring atau melalui layanan profesional di bidang pendidikan dan kesehatan. Biasanya, hasil screening muncul dalam kategori seperti berisiko disleksia atau tidak berisiko disleksia.

Orang tua perlu memahami bahwa screening test tidak menjawab pertanyaan, apakah anak ini pasti disleksia. Seorang praktisi pendidikan menegaskan, screening hanya membuka pintu kesadaran, bukan menetapkan kondisi. Pemahaman ini membantu orang tua agar tidak menarik kesimpulan besar hanya dari hasil skrining. Meski demikian, screening tetap memegang peran penting. Melalui skrining, orang tua dan guru dapat lebih cepat mengenali sinyal awal dan segera memberikan bantuan yang anak butuhkan.

Mengapa Hasil Screening Perlu Dikonsultasikan?

 

Setelah orang tua menyelesaikan screening, lakukanlah konsultasi agar hasil dapat ditafsirkan dengan tepat.  Melalui proses konsultasi, tenaga profesional membantu orang tua memahami makna hasil screening dan menentukan pendekatan yang sesuai bagi anak. Tanpa pendampingan, orang tua berisiko salah menafsirkan hasil, misalnya menganggap kategori tidak berisiko berarti anak sama sekali tidak memerlukan dukungan, atau sebaliknya. Di titik inilah tenaga profesional berperan penting sebagai jembatan menuju langkah lanjutan yang lebih akurat.”Setelah screening dilakukan, langkah berikutnya bukan panik atau melabeli anak, melainkan konsultasi. Hasil skrining sebaiknya dibawa ke tenaga profesional agar dapat diterjemahkan dengan tepat.

Melalui konsultasi, orang tua akan dibantu memahami makna hasil screening dan menentukan pendekatan yang sesuai. Tanpa pendampingan, ada risiko salah interpretasi, misalnya menganggap hasil “tidak berisiko” berarti anak tidak memerlukan dukungan apa pun, atau sebaliknya. Di sinilah peran profesional menjadi penting sebagai jembatan menuju langkah lanjutan yang lebih akurat.

Apa Itu Diagnostic Test pada Disleksia?

 

Berbeda dengan pengujian dalam bentuk screening, diagnostic test adalah uji diagnostik dengan alat pendukung. Tes ini bertujuan untuk memastikan kondisi anak secara komprehensif. Dalam kasus disleksia, proses diagnostik tidak dilakukan secara instan. Biasanya, profesional akan melakukan serangkaian pemeriksaan menyeluruh. Proses ini mencakup penghimpunan data perkembangan anak, pemeriksaan executive function, evaluasi kemampuan motorik, serta asesmen kemampuan bahasa dan akademik.

Biasanya, dokter atau tenaga kesehatan terkait juga akan mengecek kemungkinan adanya komorbid, seperti ADHD, gangguan bahasa, atau tantangan perkembangan lainnya. Orang tua atau pendamping biasanya baru benar paham kondisi anak setelah menjalani tes diagnostik karena tes ini memberikan hasil yang lebih mendalam. 

Screening dan Diagnostic Test: Bukan untuk Dipertentangkan

 

Kedua metode uji ini tidak saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. Screening berperan sebagai langkah awal, sementara diagnostic test menjadi dasar dalam menentukan intervensi yang tepat. Dengan memahami perbedaan ini, orang tua dan guru dapat mengambil keputusan yang lebih bijak. Mereka tidak terburu-buru memberi label pada anak, tetapi juga tidak membiarkan anak berjalan tanpa dukungan.

Jika Anda sudah melakukan screening dan menemukan adanya risiko, jangan berhenti di sana. Segera lanjutkan dengan konsultasi dan pemeriksaan lanjutan. Untuk para pembaca, ayo lakukan konsultasi segera ke dKLC agar anak mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhannya. Langkah yang tepat sejak awal dapat membuat perjalanan belajar anak dengan disleksia menjadi jauh lebih terarah dan manusiawi.

Bagikan postingan ini
WhatsApp
Facebook
Telegram
Email

Artikel lainnya

Scroll to Top