Salah satu pertanyaan yang paling sering saya dengar dari orang tua begitu mendengar kata “disleksia” adalah: “Dok, ini salah kami ya? Apa karena dulu jarang dibacakan buku?” Saya paham betul kekhawatiran itu. Ada rasa bersalah yang muncul, seolah-olah kondisi ini terjadi karena pola asuh yang keliru. Padahal, dari semua yang kita ketahui melalui penelitian, penyebabnya jauh dari sekadar soal pola asuh atau kurang belajar.
Penyebab disleksia utamanya adalah perbedaan cara kerja otak dalam memproses bahasa, yang sebagian besar bersifat bawaan (genetik) dan neurobiologis. Artinya, otak anak dengan disleksia bekerja dengan cara yang sedikit berbeda saat menghubungkan huruf dengan bunyi, bukan karena anak malas, kurang cerdas, atau salah diasuh. Disleksia bukan penyakit yang “tertular” dan bukan pula akibat kurangnya usaha.
Untuk memahami lebih jelas, mari kita bedah faktor-faktor yang berperan di baliknya.
Faktor Genetik (keturunan)
Disleksia cenderung menurun dalam keluarga. Bila salah satu orang tua memiliki disleksia, kemungkinan anak mengalaminya menjadi lebih besar. Para peneliti telah mengidentifikasi sejumlah gen yang berkaitan dengan cara otak memproses bahasa. Jadi bila Anda atau pasangan dulu juga kesulitan membaca, itu bisa menjadi petunjuk penting, bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.
Faktor Neurobiologis (cara Kerja Otak)
Pencitraan otak menunjukkan bahwa pada anak dengan disleksia, area otak yang mengurus pengolahan bunyi bahasa (fonologis) dan menghubungkannya dengan huruf bekerja dengan pola yang berbeda. Ini membuat proses “memecah kode” tulisan menjadi lebih lambat dan lebih melelahkan. Perbedaan ini bersifat struktural dan fungsional, bukan tanda kerusakan atau ketidakmampuan.
Faktor Risiko Lain yang Dapat Berkontribusi
- Kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah dapat meningkatkan risiko kesulitan belajar.
- Paparan zat berbahaya selama kehamilan (misalnya alkohol atau nikotin) dapat memengaruhi perkembangan otak.
- Riwayat keterlambatan bicara pada masa balita kadang menyertai risiko disleksia.
Perlu ditegaskan, faktor-faktor ini adalah faktor risiko, bukan penyebab tunggal. Banyak anak dengan disleksia lahir cukup bulan dan sehat.
Catatan dari praktik saya: saya sering menenangkan orang tua dengan satu kalimat: disleksia bukan salah siapa pun. Justru, memahami penyebabnya membebaskan keluarga dari rasa bersalah dan mengalihkan energi ke hal yang benar-benar membantu, yaitu dukungan dan intervensi yang tepat. Anak yang paham bahwa otaknya “bekerja beda, bukan bodoh” biasanya jauh lebih percaya diri.
Yang BUKAN Penyebab Disleksia
Agar tidak ada salah paham, penting menegaskan apa yang bukan penyebabnya. Disleksia tidak disebabkan oleh: kemalasan, kurangnya kecerdasan, masalah penglihatan semata, pola asuh yang buruk, kurang gizi, atau terlalu banyak menonton layar. Anak dengan disleksia umumnya memiliki kecerdasan normal hingga di atas rata-rata.
Mengapa Memahami Penyebab Itu Penting
Memahami bahwa disleksia berakar pada cara kerja otak membantu kita mengambil langkah yang tepat: fokus pada metode belajar yang sesuai (seperti pendekatan multisensori), bukan menyalahkan anak. Deteksi dan intervensi dini terbukti sangat membantu anak berkembang optimal, meski penyebab dasarnya bersifat bawaan.
Dampingi Anak Disleksia dengan Lebih Percaya Diri
Banyak orang tua bingung harus mulai dari mana. eCourse dr. Kristiantini memandu langkah demi langkah agar Anda tahu apa yang perlu dilakukan.
- Materi terstruktur, mudah diikuti orang tua
- Strategi praktis yang bisa langsung diterapkan di rumah
- Akses fleksibel, belajar kapan saja sesuai waktu Anda
Pertanyaan Seputar Penyebab Disleksia
1. Apa penyebab utama disleksia?
Penyebab disleksia utamanya adalah perbedaan cara kerja otak dalam memproses bahasa, yang sebagian besar bersifat genetik dan neurobiologis, bukan karena kemalasan atau pola asuh.
2. Apakah disleksia menurun dalam keluarga?
Ya. Disleksia memiliki komponen genetik yang kuat. Bila orang tua memiliki disleksia, kemungkinan anak mengalaminya menjadi lebih besar dibanding populasi umum.
3. Apakah disleksia disebabkan oleh kurang belajar?
Tidak. Disleksia bukan akibat kurang latihan atau kurang usaha. Anak dengan disleksia sering sudah berusaha keras, tetapi otaknya memproses bahasa tulis dengan cara berbeda.
4. Apakah pola asuh yang salah bisa menyebabkan disleksia?
Tidak. Pola asuh tidak menyebabkan disleksia. Namun, dukungan keluarga yang tepat sangat memengaruhi seberapa baik anak dapat mengatasi tantangannya.
5. Apakah disleksia berkaitan dengan tingkat kecerdasan?
Tidak. Anak dengan disleksia umumnya memiliki kecerdasan normal hingga di atas rata-rata. Disleksia adalah kesulitan spesifik pada membaca, bukan penurunan kecerdasan.
6. Apakah masalah penglihatan menyebabkan disleksia?
Tidak. Disleksia bukan gangguan penglihatan, melainkan gangguan pemrosesan bahasa di otak. Meski demikian, pemeriksaan mata tetap baik untuk menyingkirkan sebab lain kesulitan membaca.
7. Bisakah disleksia disembuhkan karena penyebabnya bawaan?
Disleksia bukan penyakit yang disembuhkan, melainkan kondisi seumur hidup yang bisa dikelola dengan sangat baik melalui metode belajar yang tepat dan intervensi dini.
8. Apakah kelahiran prematur meningkatkan risiko disleksia?
Kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah termasuk faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan kesulitan belajar, meski bukan penyebab tunggal.
9. Apakah disleksia bisa dicegah?
Karena berakar pada faktor genetik dan neurobiologis, disleksia tidak dapat dicegah. Namun, deteksi dini dan dukungan tepat dapat sangat meminimalkan dampaknya.
10. Apa langkah pertama bila mencurigai anak disleksia?
Langkah pertama adalah melakukan skrining atau asesmen dengan profesional. Diagnosis yang tepat membuka jalan menuju penanganan yang sesuai kebutuhan anak.
Konsultasi Bersama dr. Kristiantini
Memahami penyebab disleksia adalah langkah awal untuk membebaskan diri dari rasa bersalah dan fokus pada solusi. Bila Anda mencurigai anak Anda mengalami disleksia, jangan ragu untuk berkonsultasi langsung via WhatsApp, pelajari lebih dalam lewat e-course untuk orang tua, atau mulai dengan skrining dini disleksia.
Ditulis oleh dr. Kristiantini Dewi, Sp.A — Dokter Spesialis Anak dan Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia.





