Apakah Anak Kidal Pasti Disleksia? Ini Mitos dan Fakta yang Perlu Dipahami!

Anak Kidal dan hubungannya dengan disleksia

Pertanyaan tentang hubungan antara tangan dominan dan kesulitan belajar masih sering muncul di tengah orang tua dan guru. Salah satu yang paling umum adalah, apakah anak kidal pasti disleksia? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana itu. Untuk menghindari kesalahpahaman, mari kita bahas secara jernih antara mitos dan fakta.

Mitos atau Fakta: Orang Kidal Pasti Disleksia?

Anggapan bahwa orang kidal (kiri dari lahir/left handed) pasti disleksia termasuk ke dalam mitos yang sudah lama beredar. Mitos ini muncul karena sebagian individu dengan disleksia memang menggunakan tangan kiri sebagai tangan dominan. Dari sini, banyak orang kemudian menarik kesimpulan bahwa keduanya selalu berjalan beriringan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Disleksia tidak ditentukan oleh apakah seseorang menggunakan tangan kanan atau tangan kiri. Seorang anak bisa kidal tanpa mengalami disleksia, dan sebaliknya, anak dengan tangan dominan kanan juga bisa mengalami disleksia.


Hubungan Kidal dan Disleksia: Apa Kata Ilmu?

Dalam dunia neuro-sains dan pendidikan, peneliti memang menemukan bahwa pada populasi orang kidal terdapat individu yang mengalami disleksia. Fakta ini tidak keliru. Akan tetapi, fakta tersebut tidak bersifat absolut. Disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang berkaitan dengan cara otak memproses bahasa, terutama dalam membaca dan mengeja. Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, tanpa mengenal pengelompokan tangan dominan. Dengan kata lain, tangan yang digunakan untuk menulis tidak menjadi penentu utama munculnya disleksia. Faktanya, banyak orang kidal yang tumbuh tanpa hambatan dalam membaca dan menulis. Mereka menunjukkan perkembangan akademik yang tipikal dan tidak memerlukan intervensi khusus. Hal ini menegaskan bahwa kidal bukanlah indikator tunggal disleksia.

Mengapa Mitos Ini Masih Bertahan?

Mitos tentang anak kidal dan disleksia bertahan karena manusia cenderung mencari pola yang mudah dipahami. Ketika melihat beberapa anak disleksia yang kidal, sebagian orang langsung menggeneralisasi temuan tersebut. Padahal, korelasi tidak selalu berarti sebab-akibat. Selain itu, kurangnya literasi mengenai disleksia juga memperkuat anggapan keliru ini. Banyak orang masih memahami disleksia secara dangkal, seolah-olah kondisi ini hanya berkaitan dengan ciri fisik tertentu, padahal faktanya jauh lebih kompleks.

Kapan Orang Tua Perlu Waspada?

Daripada fokus pada apakah anak kidal atau tidak, orang tua sebaiknya memperhatikan tanda-tanda kesulitan belajar yang nyata. Misalnya, anak mengalami kesulitan mengenali huruf, sering tertukar membaca, atau membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk memahami teks sederhana. Jika tanda-tanda tersebut muncul secara konsisten, orang tua perlu mengambil langkah lanjutan. Di tahap ini, tenaga profesional dapat membantu melakukan asesmen yang tepat untuk memahami kebutuhan anak secara menyeluruh.

Jadi, apakah anak kidal pasti disleksia? Jawabannya adalah tidak. Kidal dan disleksia bukanlah hubungan sebab-akibat yang mutlak. Disleksia dapat dialami oleh siapa saja, baik anak kidal maupun anak dengan tangan dominan kanan. Dengan memahami fakta ini, orang tua dan guru dapat menghindari pelabelan yang keliru.

Alih-alih terpaku pada mitos, fokuslah pada pengamatan perkembangan anak dan dukungan yang ia butuhkan. Pendekatan yang tepat akan membantu anak tumbuh dan belajar sesuai potensinya.

 

Bagikan postingan ini
WhatsApp
Facebook
Telegram
Email

Artikel lainnya

Scroll to Top