Pengertian disleksia sering kali masih disalahpahami di masyarakat. Banyak yang mengira disleksia berkaitan dengan kecerdasan atau kurangnya usaha belajar, padahal disleksia adalah kondisi neurodevelopmental yang berkaitan dengan cara otak memproses informasi berbasis bahasa. Kondisi ini bersifat genetik dan dapat diturunkan dalam keluarga.
Secara umum, disleksia adalah kondisi di mana individu mengalami tantangan utama pada area bahasa. Area ini mencakup bahasa lisan, bahasa tulisan (membaca dan menulis), serta bahasa sosial. Tantangan dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti kesulitan mengenali bunyi huruf, mencocokkan bunyi dengan simbol, memahami struktur kata, atau mengekspresikan ide secara tertulis.
Selain area bahasa, individu dengan disleksia juga sering menghadapi tantangan pada Executive Function. Executive function adalah kemampuan otak untuk mengatur dan mengelola proses berpikir, seperti merencanakan, mengingat instruksi, mengelola waktu, mengatur emosi, serta mempertahankan fokus. Tantangan pada area ini dapat memengaruhi cara seseorang mengikuti instruksi, menyelesaikan tugas, atau mengatur aktivitas sehari-hari.
Penting untuk dipahami bahwa disleksia bukan penyakit, bukan hasil dari pola asuh yang salah, dan tidak mencerminkan tingkat kecerdasan seseorang. Disleksia juga bukan kondisi yang “sembuh” dengan sendirinya, tetapi dapat didampingi dan dioptimalkan melalui pemahaman yang tepat dan strategi yang sesuai.
Pendampingan pada disleksia berfokus pada penyesuaian cara belajar, penggunaan strategi yang mendukung pemrosesan bahasa, serta penguatan keterampilan executive function secara bertahap. Dengan lingkungan yang memahami dan pendekatan yang tepat, individu dengan disleksia dapat belajar, beradaptasi, dan berkembang sesuai dengan potensi mereka.





