Individu dengan ADHD dan disleksia sering menghadapi tantangan sosial yang tidak selalu tampak di permukaan. Di berbagai lingkungan seperti di sekolah, pertemuan keluarga besar, maupun pergaulan sehari-hari. Mereka kerap mengalami penolakan dan pengabaian sosial, bukan karena kurangnya niat baik, melainkan karena perbedaan cara otak memproses informasi sehingga sering dianggap tidak “umum” atau unik.
Secara neuropsikologis, ADHD dan disleksia termasuk kondisi perkembangan saraf (neurodevelopmental conditions). Kondisi ini memengaruhi fungsi eksekutif, pemrosesan bahasa, atensi, serta kecepatan respons. Akibatnya, individu menjadi lebih rentan terhadap frustrasi, terutama saat harus menavigasi situasi sosial yang kompleks dan cepat berubah.
Respons Sosial yang Tidak Selalu Sinkron
Dalam interaksi sehari-hari, membaca isyarat sosial seperti intonasi, ekspresi wajah, atau makna tersirat sering kali membutuhkan usaha ekstra. Oleh karena itu, kesulitan memahami konteks sosial dapat muncul, meskipun kemampuan intelektual mereka berada pada rentang normal hingga di atas rata-rata. Situasi ini kemudian memunculkan label yang keliru.
Masyarakat sering menilai individu dengan ADHD dan disleksia sebagai tidak peka atau kurang sensitif secara sosial. Penilaian ini biasanya muncul ketika mereka memberikan respons yang tidak sesuai dengan ekspektasi lingkungan. Padahal, individu ADHD dan disleksia merespons berdasarkan keterlambatan pemrosesan atau perbedaan interpretasi, bukan karena ketidakpedulian.
Dalam konteks humor dan bercanda, tantangan ini tampak lebih jelas. Banyak individu ADHD dan disleksia mengalami kesulitan menangkap jokes yang dianggap umum oleh lingkungan, sehingga orang lain menilai mereka terlalu serius atau “tidak nyambung”. Sebaliknya, ketika mereka mencoba melontarkan candaan, lingkungan sosial sering merespons dengan anggapan bahwa jokes tersebut garing atau tidak lucu.
Dari sudut pandang klinis, pengalaman seperti ini yang terjadi berulang kali dapat berdampak pada kesehatan mental. Penolakan dan kesalahpahaman yang terus-menerus meningkatkan risiko individu menarik diri secara sosial, kehilangan kepercayaan diri, dan mengalami kecemasan. Dalam jangka panjang, individu dapat belajar menekan ekspresi diri untuk menghindari penilaian negatif. Meski demikian, kesulitan sosial pada ADHD dan disleksia tidak berakar pada kurangnya empati. Banyak individu justru menunjukkan sensitivitas emosional yang tinggi. Tantangan utama terletak pada kemampuan mengintegrasikan informasi sosial secara real time.
Empati sebagai Kunci Lingkungan yang Inklusif
Oleh karena itu, pendekatan lingkungan yang edukatif dan suportif sangat dibutuhkan. Dengan komunikasi yang lebih eksplisit, penjelasan konteks sosial yang jelas, serta ekspektasi yang realistis, individu ADHD dan disleksia dapat berfungsi optimal dalam relasi sosial. Sejatinya, pemahaman medis dan empati sosial perlu berjalan beriringan. Ketika lingkungan mampu melihat perbedaan sebagai variasi fungsi otak, bukan kekurangan, individu ADHD dan disleksia akan memiliki ruang yang lebih aman untuk tumbuh, berinteraksi, dan berkembang secara utuh.





