Anak ADHD dan Fenomena Hyperfocus

ADHD dan Fenomena Hyperfocus

Anak dengan ADHD sering dikenal sebagai anak yang sulit fokus, mudah terdistraksi, dan tampak tidak bisa diam. Namun, pada situasi tertentu, orang tua justru melihat hal yang sebaliknya. Anak dapat duduk lama, tenggelam dalam satu aktivitas, bahkan lupa makan dan minum. Kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan, “Jika anak bisa fokus seperti ini, mengapa tetap disebut ADHD?”

Fenomena tersebut dikenal sebagai hyperfocus, dan kondisi ini cukup umum terjadi pada anak ADHD.

Apa Itu Hyperfocus pada Anak ADHD?

Hyperfocus merupakan kondisi ketika anak memusatkan perhatian secara sangat intens pada satu aktivitas tertentu. Anak dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain game, merakit mainan, menggambar, atau membuat sesuatu yang menarik baginya.

Pada saat hyperfocus terjadi, perhatian anak menjadi sangat sempit. Anak sulit merespons panggilan, tidak menyadari rasa lapar atau haus, dan tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Kondisi ini bukan terjadi karena anak “akhirnya bisa fokus”, melainkan karena sistem atensi bekerja secara tidak seimbang.

Mengapa Anak ADHD Bisa Sangat Fokus?

Pada anak ADHD, sistem pengaturan perhatian di otak bekerja secara berbeda. Otak cenderung mencari aktivitas yang memberikan stimulasi tinggi dan rasa menyenangkan. Ketika anak memanipulasi sesuatu, seperti bermain game atau membuat karya, otak mendapatkan rangsangan yang kuat.

Akibatnya, fokus terkunci pada satu aktivitas tersebut. Anak menjadi sangat terlibat secara mental dan emosional. Di satu sisi, hal ini dapat terlihat sebagai kemampuan fokus yang luar biasa. Namun di sisi lain, kondisi ini menyimpan tantangan tersendiri.

Hyperfocus Bukan Tanda Fokus yang Sehat

Hyperfocus sering disalahartikan sebagai kemampuan konsentrasi yang baik. Padahal, kondisi ini justru menunjukkan adanya masalah dalam fleksibilitas perhatian. Anak mengalami kesulitan untuk shifting, yaitu berpindah dari satu tugas ke tugas lain dalam waktu yang sepantasnya.

Ketika diminta berhenti, anak bisa menunjukkan reaksi emosional yang kuat, seperti marah, menangis, atau menolak. Hal ini terjadi karena otak anak belum mampu mengatur transisi secara halus. Dengan kata lain, anak tidak sedang memilih untuk mengabaikan kebutuhan lain, tetapi memang kesulitan mengalihkan fokusnya.

Dampak Hyperfocus Jika Tidak Didampingi

Jika hyperfocus tidak didampingi dengan tepat, anak dapat melewatkan kebutuhan dasar seperti makan, minum, istirahat, dan interaksi sosial. Dalam jangka panjang, pola ini dapat memengaruhi regulasi emosi dan keseharian anak.

Namun demikian, hyperfocus juga menyimpan potensi. Dengan pendampingan yang tepat, minat kuat anak dapat diarahkan menjadi kekuatan belajar dan keterampilan yang bermakna.

Peran Orang Tua dalam Mendampingi Hyperfocus

Orang tua berperan penting dalam membantu anak mengenali batasan waktu dan belajar beralih tugas secara bertahap. Pendampingan yang konsisten, penuh empati, dan tidak konfrontatif akan membantu anak membangun fleksibilitas perhatian. Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dapat melihat hyperfocus bukan sekadar masalah, tetapi sebagai sinyal kebutuhan anak untuk dibimbing dengan strategi yang sesuai. Lakukanlah konsultasi jika membutuhkan inspirasi!

 

Bagikan postingan ini
WhatsApp
Facebook
Telegram
Email

Artikel lainnya

Scroll to Top