Cara Memotivasi Anak Dengan Disleksia

Motivasi Anak dengan disleksia

Memotivasi anak dengan disleksia sering kali terasa seperti berjalan di atas tali. Niatnya ingin menyemangati, tetapi yang terjadi justru anak menguji kesabaran guru dan orang tua. Di sinilah konsep one time, one lesson menjadi relevan: setiap interaksi adalah satu momen belajar, bukan arena pembuktian siapa yang paling benar. Pendekatan ini mengajak kita untuk fokus pada satu pelajaran kecil dalam satu waktu. Tidak menumpuk tuntutan, tidak mengulang kritik, dan tidak membandingkan anak dengan siapa pun. Karena bagi anak dengan disleksia, perbandingan bukan motivasi melainkan tekanan. Simak langkah-langkahnya:

Jangan Membandingkan Anak dengan Siapa Pun

Langkah pertama yang paling krusial adalah memastikan kita tidak membandingkan anak dengan teman, saudara, atau bahkan dirinya di masa lalu. Kalimat seperti, “Temanmu bisa, kenapa kamu belum?” sering kali keluar tanpa sadar. Padahal, bagi anak dengan disleksia, kalimat ini dapat mematikan kepercayaan diri.

Sebaliknya, tanamkan prinsip bahwa setiap anak memiliki ritme belajar yang berbeda. Seorang guru pernah mengatakan, “Anak ini bukan lambat, tapi sedang menempuh jalurnya sendiri.” Kalimat sederhana ini mengubah cara pandang banyak orang tua. Dengan berhenti membandingkan, kita memberi ruang aman bagi anak untuk bertumbuh.

Review Progress, Bukan Hanya Hasil

Setelah itu, penting untuk secara rutin melakukan tinjauan pada progres belajar anak. Fokuskan perhatian pada proses, bukan semata hasil akhir. Misalnya, bukan hanya melihat apakah anak sudah bisa membaca lancar, tetapi juga apakah ia lebih berani mencoba, lebih konsisten berlatih, atau lebih tenang saat menemui kesulitan. Pada tahap ini, guru dan orang tua perlu jujur pada diri sendiri. Apakah kita benar-benar melihat usaha anak, atau hanya terpaku pada target? Dengan mengulas progres, kita mengirim pesan tidak langsung bahwa usaha anak itu terlihat dan dihargai.

Pointing Out Kemajuan dengan Apresiasi yang Signifikan

Ketika ada kemajuan, sekecil apa pun, tunjukkan dengan apresiasi yang pantas dan signifikan. Bukan pujian berlebihan, tetapi pengakuan yang spesifik. Daripada hanya berkata, “Pintar,” cobalah mengatakan, “Hari ini kamu bisa mengenali huruf lebih cepat dari kemarin. Itu kemajuan besar.” Kalimat langsung seperti ini membantu anak memahami apa yang sudah tepat. Ia belajar bahwa usahanya membuahkan hasil. Apresiasi yang jelas juga memperkuat motivasi intrinsik, karena anak tahu apa yang perlu dipertahankan.

Ajak Diskusi tentang Hal yang Belum Tepat

Namun, motivasi tidak berhenti pada pujian. Setelah mengapresiasi kemajuan, ajak anak berdiskusi mengenai hal yang belum tepat. Kuncinya adalah pilihan kata. Hindari kalimat, “Kamu salah,” karena kata ini sering memicu rasa gagal. Sebagai gantinya, gunakan frasa, “Bagian ini belum tepat, yuk kita coba cara lain.” Kalimat ini bersifat mengajak, bukan menghakimi. Anak tetap merasa aman untuk mencoba lagi. Secara tidak langsung, kita mengajarkan bahwa kesalahan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar.

Berikan Marka yang Jelas pada Hal yang Sudah Tepat

Terakhir, berikan marka atau penanda yang jelas pada hal-hal yang sudah tepat. Marka ini bisa berupa simbol, catatan kecil, atau pengulangan verbal. Misalnya, guru menandai bagian tulisan anak yang sudah benar dengan warna tertentu, atau orang tua mengulang, “Cara kamu mengeja bagian ini sudah pas.”

Penanda ini berfungsi sebagai jangkar. Anak tahu bagian mana yang bisa ia percaya dan ulangi di kesempatan berikutnya. Dalam konsep one time, one lesson, marka membantu anak membawa satu pelajaran kecil yang jelas setiap kali belajar.

Pada akhirnya, memotivasi anak yang menyandang disleksia itu bukan tentang mendorong lebih keras, melainkan mendampingi dengan lebih sadar. Dengan tidak membandingkan, rutin memantau progres belajarnya, mengapresiasi kemajuan, mendiskusikan hal yang belum tepat dengan bahasa yang aman, dan memberi marka yang jelas pada apa yang telah berhasil ia lakukan. Mari sama-sama kita ingat bahwa kita sedang membangun motivasi yang sehat dan berkelanjutan. Bagi anak dan bagi diri kita sendiri sebagai pendamping mereka.

Satu waktu, satu pelajaran. Cukup itu. Karena dari pelajaran-pelajaran kecil inilah kepercayaan diri anak dengan disleksia tumbuh perlahan, namun kuat. Semangat selalu, para pendamping hebat!

Bagikan postingan ini
WhatsApp
Facebook
Telegram
Email

Artikel lainnya

Scroll to Top