Pertanyaan tentang hubungan antara IQ score dan reading score sering muncul ketika orang tua melihat hasil tes anak yang tampak tidak selaras. Sebuah penelitian yang melibatkan responden usia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas memberikan gambaran yang menarik. Penelitian ini melibatkan dua kelompok anak. Kelompok pertama adalah anak tipikal dengan IQ normal hingga di atas rata-rata. Kelompok kedua adalah anak dengan disleksia yang juga memiliki IQ normal hingga di atas rata-rata.
Pada kedua kelompok tersebut, peneliti melakukan tes membaca dengan standar yang sama. Tujuannya sederhana, yaitu melihat apakah skor IQ sejalan dengan skor membaca pada masing-masing kelompok.
Anak Tipikal: IQ Score dan Reading Score yang Selaras
Pada kelompok anak tipikal, hasil penelitian menunjukkan keselarasan antara IQ score dan reading score. Anak dengan IQ yang baik cenderung memiliki kemampuan membaca yang sesuai dengan usianya. Temuan ini sejalan dengan ekspektasi umum dalam dunia pendidikan.
Seiring naiknya jenjang kelas, kemampuan membaca anak tipikal berperan semakin besar. Anak membaca lebih lancar, memahami teks lebih kompleks, dan menyerap informasi dengan lebih cepat. Kemampuan membaca ini kemudian menjadi dasar bagi anak untuk membaca lebih banyak. Akibatnya, wawasan anak bertambah, kosakata berkembang, dan pemahaman konseptual semakin matang. Dalam kondisi ini, IQ dan kemampuan membaca saling menguatkan.
Anak dengan Disleksia: Ketidaksinkronan yang Perlu Dipahami
Berbeda dengan kelompok anak tipikal, penelitian menemukan pola yang tidak selaras pada kelompok anak dengan disleksia. Meskipun IQ mereka berada pada rentang normal hingga di atas rata-rata, reading score yang mereka peroleh jauh lebih rendah dibandingkan batas kemampuan membaca sesuai usia.
Ketidaksinkronan ini sering mengejutkan orang dewasa di sekitar anak. Anak tampak cerdas saat berdiskusi, mampu berpikir logis, dan memiliki pemahaman konsep yang baik. Namun ketika berhadapan dengan teks tertulis, performa membaca justru tertinggal. Kondisi ini bukan disebabkan oleh rendahnya kecerdasan, melainkan oleh cara otak memproses bahasa tulis.
Mengapa Ketidaksinkronan Ini Perlu Diperhatikan?
Ketidaksinkronan antara IQ score dan reading score pada anak dengan disleksia bukanlah kegagalan anak. Sebaliknya, kondisi ini menjadi sinyal penting bagi orang tua dan pendidik. Tanpa pemahaman yang tepat, anak berisiko dianggap kurang berusaha atau tidak fokus, padahal ia menghadapi tantangan spesifik dalam membaca.
Di sinilah peran orang tua, pendamping, dan anak menjadi sangat penting. Mereka perlu bekerja sama untuk mengoptimalkan potensi anak. Pendekatan pembelajaran yang tepat, intervensi membaca yang terstruktur, serta dukungan emosional dapat membantu memperkecil jarak antara potensi kognitif dan kemampuan membaca.
Kesimpulannya, pada anak tipikal kemampuan baca dan IQ cenderung selaras dan saling mendukung. Namun pada anak dengan disleksia, IQ yang baik tidak selalu diikuti oleh kemampuan membaca yang setara dengan usia. Memahami perbedaan ini membantu orang tua dan guru melihat anak dengan lebih adil. Fokus tidak lagi pada apa yang tampak tertinggal, tetapi pada bagaimana potensi anak dapat dioptimalkan melalui dukungan yang tepat dan berkelanjutan.





