Kenali Tic & Tourette Syndrome pada Anak: Ciri, Hubungan dengan Disleksia, dan Solusinya

Tic dan Tourette Syndrome pada Anak

Orang tua dan pendamping, pernah nggak sih melihat anak tiba-tiba sering berdeham, mengedip-ngedip tanpa alasan, atau menggerakkan leher berulang-ulang? Kadang kita pikir itu sekadar kebiasaan. Padahal bisa jadi itu yang disebut tic. Jika gerakannya lebih besar, kompleks, bahkan muncul dalam bentuk suara dan gerakan sekaligus, itu bisa berkembang menjadi Tourette Syndrome. Hal ini bisa berdampak cukup besar bagi tumbuh kembang anak. Nah, pertanyaannya:  “Apakah hal ini memungkinkan untuk terjadi pada anak dengan disleksia?” Jawabannya: Ya, mungkin saja ayah, bunda dan pendamping. Mari kita baca artikel ini sampai tuntas!

Kenapa Tic dan Tourette Syndrome Bisa Terjadi pada Anak Disleksia?

Anak dengan disleksia sering kali punya kondisi penyerta (komorbid). Salah satunya adalah tic atau Tourette. Ketika hal ini muncul, anak bisa merasa makin “berbeda” dari teman-temannya. Bukankah ini dapat menimbulkan rasa cemas yang terus bertambah?  Tak hanya karena kesulitan belajar, tapi juga karena gerakan-gerakan yang sulit dikontrol ini. Ketika hal ini terjadi, kita jangan sampai lengah. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh kita sebagai pendamping anak untuk meminimalisir hal ini.

Hal yang bisa kita lakukan setelah mengamati dan memperhatikan intensitas Tic pada Anak:

1. Jangan buru-buru menegur. Ingat, tic bukanlah kebiasaan buruk. Kita perlu memastikan lebih lanjut apakah anak dapat mengendalikan hal secara mandiri ini atau memang sudah membutuhkan bantuan eksternal.
2. Amati dengan tenang. Catat kapan gerakan muncul, berapa sering, dan apakah ada pemicu tertentu. Ini poin yang sangat penting yang perlu dilakukan oleh pendamping. Sebab ini bisa menjadi rekam jejak yang dapat dikonsultasikan dengan ahli terkait, untuk langkah lebih lanjut yang lebih tepat.
3. Dampingi dengan empati. Pelukan, kata-kata menenangkan, atau sekadar hadir bisa sangat berarti. Jangan terus mengkritik dan membuat anak dalam kondisi tidak nyaman. Ia mungkin melakukannya tanpa ia sadari. Anak pun pasti mengalami kebingungan dan butuh tempat aman secara mental.
4. Konsultasi profesional. Jika tic makin sering atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau dokter anak yang pendamping percayai. 

Ayah-Ibu dan Pendamping wajib Ingat 💡

Anak dengan disleksia (atau kondisi lain sekalipun) tetaplah anak yang butuh diterima dan dicintai. Kita sebagai orang dewasa punya peran besar untuk membuat mereka merasa aman, percaya diri, dan tidak sendirian. Kalau kamu orang tua atau guru yang pernah mendapati tanda-tanda ini, jangan panik dulu. Yuk, jadikan ini momen untuk lebih peka, lebih sabar, dan lebih dekat dengan anak. Jangan sungkan jangkau kami dengan klik di sini!

 

Bagikan postingan ini
WhatsApp
Facebook
Telegram
Email

Artikel lainnya

Scroll to Top