Dyslexia is Unexpected: Ketika Kemampuan Membaca Tidak Sejalan dengan Potensi Kognitif

Istilah “Dyslexia is unexpected” sering digunakan dalam dunia pendidikan dan kesehatan anak. Namun, apa sebenarnya makna dari pernyataan tersebut? Secara sederhana, disleksia disebut unexpected karena kesulitan membaca yang dialami anak tidak sesuai dengan potensi kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, terdapat kesenjangan yang nyata antara kemampuan intelektual dan capaian akademik, khususnya dalam aspek literasi.

1. Adanya Kesenjangan antara Potensi dan Capaian Aktual

Konsep utama dari dyslexia is unexpected merujuk pada adanya gap atau kesenjangan antara potensi kognitif seorang anak dengan performa membacanya. Seorang anak dengan disleksia umumnya memiliki:

  • Tingkat kecerdasan normal
  • Bahkan dalam banyak kasus, kecerdasan di atas rata-rata
  • Kemampuan berpikir logis yang baik
  • Rasa ingin tahu tinggi

Namun demikian, ketika diminta membaca, mengeja, atau menulis, anak tersebut mengalami kesulitan yang signifikan. Di sinilah letak “unexpected”-nya. Secara intelektual ia mampu, tetapi dalam praktik literasi, performanya tidak mencerminkan potensi tersebut.

2. Orang Tua Sering Datang Saat Anak Sudah Masuk Usia SD

Dalam praktik klinis, tidak jarang orang tua baru menyadari adanya masalah ketika anak mulai memasuki usia Sekolah Dasar. Awalnya, saat di usia prasekolah, anak tampak baik-baik saja. Ia bisa berbicara lancar, memahami instruksi, bahkan terlihat cerdas dalam percakapan sehari-hari. Namun ketika mulai belajar membaca secara formal di kelas 1 atau 2 SD, orang tua mulai merasa ada yang berbeda.

Beberapa keluhan yang sering muncul antara lain:

  • Anak sulit mengenali huruf
  • Membaca sangat lambat dibanding teman sebayanya
  • Sering terbalik membaca huruf atau kata
  • Menghindari aktivitas membaca
  • Nilai pelajaran berbasis literasi menurun

Akibatnya, orang tua kaget karena anak yang sebelumnya tampak cerdas justru mengalami kemunduran dalam aspek akademik, khususnya literasi.

3. Setelah Dievaluasi, Tingkat Kecerdasan Ternyata Normal atau Di Atas Rata-rata

Ketika dilakukan evaluasi psikologis atau asesmen kognitif, hasilnya sering kali menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan anak berada dalam rentang normal, bahkan superior. Hal ini semakin memperjelas bahwa masalah yang dialami bukanlah karena kurang cerdas.

Sebaliknya, anak memiliki potensi berpikir yang baik. Ia mampu memahami konsep, memecahkan masalah, serta memiliki daya nalar yang adekuat. Dengan demikian, kesulitan membaca yang muncul menjadi semakin kontras dibandingkan dengan kemampuan berpikirnya.

4. Kemampuan Literasi Tidak Sebanding dengan Kognisinya

Inti dari konsep dyslexia is unexpected terletak pada ketidakseimbangan ini. Kemampuan literasi seperti membaca, mengeja, dan menulis ternyata tidak berkembang sejalan dengan kapasitas intelektualnya. Apabila seorang anak memiliki kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata, secara umum ia diharapkan mampu mengikuti pembelajaran membaca sesuai usianya. Namun pada anak dengan disleksia, hal tersebut tidak terjadi. Oleh karena itu, kesulitan membaca yang dialami menjadi tidak terduga (unexpected).

Mengapa Memahami Konsep Ini Penting?

Memahami bahwa disleksia bersifat unexpected membantu orang tua dan guru untuk:

  • Tidak langsung menyimpulkan anak malas atau kurang usaha
  • Tidak menganggap anak kurang cerdas
  • Lebih cepat melakukan evaluasi yang tepat
  • Memberikan intervensi yang sesuai sejak dini

Semakin cepat kesenjangan ini dikenali, semakin baik pula peluang anak untuk mendapatkan dukungan yang tepat.

Kesimpulan

“Dyslexia is unexpected” menggambarkan kondisi ketika kemampuan membaca seorang anak tidak sesuai dengan potensi kognitifnya. Anak tampak cerdas, memiliki IQ normal atau bahkan di atas rata-rata, namun mengalami kesulitan signifikan dalam literasi. Kesenjangan inilah yang menjadi ciri khas disleksia. Karena itu, apabila anak menunjukkan kemampuan berpikir yang baik tetapi tertinggal dalam membaca, evaluasi lebih lanjut sangat dianjurkan.

Temukan strategi terbaik untuk mendampingi anak dengan disleksia dengan unggah online course dari dr. Kristiantini Dewi dengan klik di sini.

Bagikan postingan ini
WhatsApp
Facebook
Telegram
Email

Artikel lainnya

Scroll to Top