Saya masih ingat seorang anak laki-laki yang dibawa orang tuanya karena nilai sekolahnya biasa saja, bahkan cenderung buruk di beberapa mata pelajaran. Tapi begitu saya ajak bicara soal luar angkasa, matanya berbinar dan ia menjelaskan orbit planet dengan detail yang membuat saya terkejut. Gurunya bingung, orang tuanya frustrasi: “Anaknya jelas pintar, tapi kenapa nilainya jeblok?” Anak seperti ini sering kali adalah anak yang kita sebut twice exceptional.
Twice exceptional adalah istilah untuk anak yang memiliki dua “keistimewaan” sekaligus: di satu sisi ia berbakat atau memiliki kecerdasan di atas rata-rata (gifted), namun di sisi lain ia juga memiliki kebutuhan khusus atau kesulitan belajar tertentu, seperti disleksia, ADHD, atau gangguan pemrosesan lainnya. Sering disingkat “2E”, anak-anak ini istimewa dua kali lipat, dan justru karena itu sering paling sulit dikenali.
Kenapa sulit dikenali? Karena kedua kondisi ini bisa saling menutupi. Kecerdasannya yang tinggi menyamarkan kesulitan belajarnya, sementara kesulitan belajarnya menyembunyikan potensinya. Hasilnya, anak sering terlihat “biasa saja” dan potensinya tidak tergali.
Tiga Profil Anak Twice Exceptional
Para ahli mengenali beberapa pola yang umum muncul:
- Giftedness yang menutupi kesulitan: anak terlihat rata-rata karena kecerdasannya “menambal” kekurangannya, sehingga keduanya tak terdeteksi.
- Kesulitan yang menutupi giftedness: kesulitan belajar begitu menonjol sampai bakatnya tak terlihat, dan anak dianggap hanya “lemah”.
- Keduanya saling menutupi: anak tampak benar-benar rata-rata, padahal di dalamnya ada potensi tinggi dan tantangan nyata sekaligus.
Ciri-ciri Anak Twice Exceptional
- Kosakata dan wawasan luas di topik yang diminati, tetapi kesulitan pada tugas dasar seperti membaca atau menulis.
- Sangat kreatif dan penuh ide, namun berantakan dalam mengorganisasi diri.
- Nilai naik-turun drastis antar mata pelajaran.
- Mudah frustrasi dan merasa “bodoh” padahal jelas cerdas.
- Perfeksionis, sensitif, dan kadang menghindari tugas yang terasa sulit.
Catatan dari praktik saya: anak 2E adalah kelompok yang paling sering “jatuh di celah”. Guru melihat nilainya rendah dan menganggap ia tidak berbakat; atau melihat ia pintar bicara dan menganggap ia hanya malas. Keduanya keliru. Yang paling menyedihkan bagi saya bukan kesulitan belajarnya, melainkan ketika anak berbakat mulai percaya bahwa dirinya bodoh. Tugas kita adalah memastikan itu tidak terjadi.
Mengapa Anak 2E Sering Salah Dipahami
Sistem pendidikan cenderung menilai anak dari rata-rata. Anak yang unggul di satu sisi dan kesulitan di sisi lain sering “dinormalkan” menjadi rata-rata, sehingga baik bakat maupun kesulitannya tidak mendapat perhatian yang layak. Akibatnya, anak tidak mendapat pengayaan untuk bakatnya, sekaligus tidak mendapat dukungan untuk kesulitannya.
Cara Mendukung Anak Twice Exceptional
- Kenali kedua sisinya. Beri ruang untuk bakatnya berkembang, sekaligus dukungan untuk kesulitannya. Jangan pilih salah satu.
- Fokus pada kekuatan. Gunakan minat dan bakatnya sebagai “pintu masuk” untuk melatih area yang sulit.
- Sediakan akomodasi yang tepat. Misalnya audiobook untuk anak gifted dengan disleksia, agar ia tetap bisa mengakses materi tingkat tinggi.
- Jaga kesehatan emosinya. Anak 2E rentan frustrasi dan rendah diri, jadi dukungan emosional sama pentingnya dengan dukungan akademik.
Panduan Lengkap Mendampingi Anak Disleksia
Mulai dari mengenali ciri sampai aktivitas belajar harian, semuanya ada dalam satu program dari dr. Kristiantini Dewi, Sp.A yang bisa Anda ikuti dari rumah.
- Materi terstruktur, mudah diikuti orang tua
- Strategi praktis yang bisa langsung diterapkan di rumah
- Akses fleksibel, belajar kapan saja sesuai waktu Anda
Pertanyaan Seputar Twice Exceptional
1. Apa itu twice exceptional (2E)?
Twice exceptional adalah kondisi anak yang gifted atau berkecerdasan di atas rata-rata sekaligus memiliki kesulitan belajar atau kebutuhan khusus, seperti disleksia atau ADHD.
2. Kenapa anak 2E sulit dikenali?
Karena bakat dan kesulitannya bisa saling menutupi. Kecerdasan menyamarkan kesulitan, sementara kesulitan menyembunyikan bakat, sehingga anak sering tampak “biasa saja”.
3. Apakah anak gifted bisa juga disleksia?
Bisa. Kecerdasan tinggi dan disleksia dapat muncul bersamaan. Anak gifted dengan disleksia adalah salah satu profil twice exceptional yang paling umum.
4. Apa tanda anak mungkin twice exceptional?
Tandanya antara lain wawasan luas namun kesulitan pada tugas dasar, nilai naik-turun drastis, sangat kreatif tetapi berantakan, dan mudah frustrasi meski jelas cerdas.
5. Apakah 2E sama dengan sekadar anak pintar yang malas?
Tidak. Anak 2E memiliki kesulitan belajar nyata, bukan malas. Menyebutnya malas justru berbahaya karena mengabaikan kebutuhan dukungan yang sebenarnya.
6. Bagaimana cara memastikan anak twice exceptional?
Diperlukan asesmen menyeluruh yang menilai baik potensi/kecerdasan maupun area kesulitan, idealnya oleh profesional yang memahami konsep 2E.
7. Apa risiko bila anak 2E tidak terdeteksi?
Bakatnya tidak berkembang dan kesulitannya tidak tertangani. Anak berisiko kehilangan kepercayaan diri dan mulai percaya bahwa dirinya bodoh.
8. Bagaimana sekolah sebaiknya mendukung anak 2E?
Dengan menyediakan pengayaan untuk bakatnya sekaligus akomodasi untuk kesulitannya, misalnya materi menantang plus alat bantu seperti audiobook atau waktu tambahan.
9. Apakah kondisi 2E bisa berubah seiring waktu?
Kesulitan belajarnya bersifat menetap, tetapi dengan dukungan tepat anak 2E dapat berkembang pesat dan memanfaatkan bakatnya secara optimal.
10. Ke mana saya bisa mencari bantuan untuk anak 2E?
Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau profesional tumbuh kembang yang memahami giftedness dan kesulitan belajar sekaligus.
Konsultasi Bersama dr. Kristiantini
Anak twice exceptional membutuhkan pemahaman dari dua sisi sekaligus. Jika Anda merasa anak Anda cerdas namun juga menghadapi kesulitan belajar, jangan ragu untuk berkonsultasi langsung via WhatsApp, pelajari lebih lanjut melalui e-course untuk orang tua, atau mulai dengan skrining dini disleksia.
Ditulis oleh dr. Kristiantini Dewi, Sp.A — Dokter Spesialis Anak dan Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia.





