“Sebaiknya anak saya sekolah di mana, Dok? Reguler, inklusi, atau khusus?” Ini salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima dari orang tua anak disleksia. Kabar baiknya, pilihannya lebih luas dari yang mereka kira.
Jawaban singkatnya: anak disleksia sebaiknya sekolah di lingkungan yang paling bisa mendukung cara belajarnya, dan itu sering kali sekolah reguler yang suportif. Yang menentukan bukan jenis sekolahnya, melainkan seberapa siap sekolah itu mendampingi anak.
Mari kita bahas cara memilih dan mendukungnya, supaya keputusan Anda lebih tenang.
Apakah Anak Disleksia Bisa Sekolah di Sekolah Umum?
Bisa, dan banyak yang berhasil. Anak disleksia memiliki kecerdasan normal, sehingga mampu mengikuti kurikulum sekolah reguler selama mendapat penyesuaian dan dukungan yang tepat. Kuncinya ada pada pemahaman guru dan strategi belajarnya.
Catatan dari praktik saya: saya lebih sering menyarankan memperkuat dukungan di sekolah yang ada, daripada terburu-buru memindahkan anak. Yang anak butuhkan biasanya bukan sekolah baru, tapi cara belajar yang dipahami.
Sekolah Reguler vs Sekolah Inklusi
Sekolah reguler cocok bila gurunya terbuka dan mau menyesuaikan. Sekolah inklusi menyediakan dukungan lebih terstruktur untuk anak berkebutuhan khusus. Keduanya bisa menjadi pilihan tepat, tergantung kebutuhan dan kesiapan lingkungan.
Cara Memilih Sekolah yang Tepat
- Cari sekolah yang guru dan kebijakannya terbuka pada perbedaan cara belajar.
- Tanyakan apakah sekolah bersedia memberi penyesuaian sederhana.
- Perhatikan suasana yang mendukung rasa percaya diri anak.
Strategi Mendukung Anak Disleksia di Sekolah
- Berikan stimulasi yang sesuai kebutuhan anak.
- Edukasi guru tentang kondisi anak.
- Kenalkan strategi belajar yang cocok, seperti pendekatan multisensori.
- Gunakan panduan belajar yang terstruktur.
Dampingi Anak Disleksia dengan Lebih Percaya Diri
Banyak orang tua bingung harus mulai dari mana. eCourse dr. Kristiantini memandu langkah demi langkah agar Anda tahu apa yang perlu dilakukan.
- Materi terstruktur, mudah diikuti orang tua
- Strategi praktis yang bisa langsung diterapkan di rumah
- Akses fleksibel, belajar kapan saja sesuai waktu Anda
Pertanyaan Seputar Sekolah Anak Disleksia
1. Apakah anak disleksia bisa sekolah di sekolah umum?
Bisa. Banyak anak disleksia berkembang baik di sekolah reguler selama mendapat dukungan dan strategi belajar yang sesuai.
2. Anak disleksia sebaiknya sekolah di mana?
Di lingkungan yang paling mendukung cara belajarnya, sering kali sekolah reguler yang suportif atau sekolah inklusi.
3. Apa itu sekolah inklusi?
Sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus dan menyediakan dukungan belajar bersama anak lain pada umumnya.
4. Apakah ada sekolah khusus disleksia di Indonesia?
Ada beberapa learning center dan program khusus, meski terbatas. Sekolah reguler yang suportif tetap pilihan umum.
5. Bagaimana cara mengedukasi guru soal disleksia?
Sampaikan kondisi anak secara terbuka, bagikan strategi yang berhasil di rumah, dan ajak guru bekerja sama.
6. Apakah anak disleksia perlu pindah sekolah?
Tidak selalu. Pindah hanya perlu bila lingkungan saat ini tak mampu mendukung kebutuhan belajar anak.
7. Bagaimana anak disleksia belajar di kelas reguler?
Dengan penyesuaian seperti waktu tambahan, instruksi bertahap, dan bantuan visual.
8. Apa hak pendidikan anak disleksia?
Anak disleksia berhak atas pendidikan setara dan penyesuaian wajar sesuai kebutuhannya.
9. Strategi belajar apa yang cocok?
Pendekatan multisensori, materi yang dipecah menjadi bagian kecil, dan pengulangan.
10. Kapan anak disleksia siap masuk SD?
Kesiapan dinilai dari kematangan menyeluruh, bukan usia semata; asesmen dapat membantu memastikannya.
Baca juga: cara mendampingi respon anak disleksia.
Konsultasi Bersama dr. Kristiantini
Bingung menentukan sekolah untuk anak? Mari kita diskusikan bersama. Tim dr. Kristiantini Learning Center siap membantu. Anda bisa berkonsultasi langsung via WhatsApp, mengikuti eCourse pendampingan anak, atau menjadwalkan screening dan asesmen serta terapi bersama kami.
Ditulis oleh dr. Kristiantini Dewi, Sp.A, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia.





