“Sudah les tambahan, Dok, tapi kok nilainya tetap begitu?” Ini kalimat yang sering saya dengar dari orang tua. Masalahnya, les biasa mengulang materi umum, sementara sebagian anak butuh pendekatan yang menyasar akar kesulitannya. Di sinilah terapi remedial berperan.
Terapi remedial adalah pendekatan belajar khusus yang dirancang untuk membantu anak mengatasi kesulitan belajar tertentu, seperti membaca, menulis, atau berhitung, dengan metode yang disesuaikan pada cara belajar unik setiap anak.
Berbeda dengan les pada umumnya, terapi ini tidak sekadar menambah jam belajar, melainkan membangun fondasi yang selama ini belum kuat. Mari kita bahas cara kerjanya.
Apa Bedanya dengan Les Biasa?
Les biasa berfokus pada materi pelajaran; terapi remedial berfokus pada keterampilan dasar yang menjadi akar masalah. Misalnya, alih-alih mengulang soal membaca, terapis memperkuat kemampuan mengenali bunyi huruf lebih dulu. Program disusun setelah kebutuhan anak dipahami lewat asesmen.
Catatan dari praktik saya: anak yang gagal di les biasa sering bukan karena tidak mampu, tapi karena metodenya tidak cocok. Begitu pendekatannya diganti, banyak yang berkembang jauh lebih cepat dari dugaan orang tuanya.
Untuk Anak Seperti Apa?
Terapi remedial cocok untuk anak dengan disleksia, disgrafia, diskalkulia, ADHD, atau anak yang tertinggal pada keterampilan dasar tertentu. Bila ada kesenjangan antara kemampuan dan pencapaian anak, pendekatan ini layak dipertimbangkan.
Seperti Apa Kegiatannya?
Kegiatan dibuat menyenangkan agar anak tidak merasa sedang “diperbaiki”. Beberapa contoh:
- Latihan membaca multisensori (melihat, mendengar, meraba huruf).
- Permainan bunyi dan suku kata untuk memperkuat fonologi.
- Latihan menulis bertahap dengan panduan visual.
- Berhitung dengan benda konkret sebelum masuk angka abstrak.
Bagaimana Prosesnya Berjalan?
Dimulai dari asesmen untuk memahami kebutuhan anak, lalu penyusunan program, sesi rutin, dan evaluasi berkala. Peran orang tua penting untuk melanjutkan latihan sederhana di rumah agar kemajuan lebih konsisten.
Panduan Lengkap Mendampingi Anak Disleksia
Mulai dari mengenali ciri sampai aktivitas belajar harian, semuanya ada dalam satu program dari dr. Kristiantini Dewi, Sp.A yang bisa Anda ikuti dari rumah.
- Materi terstruktur, mudah diikuti orang tua
- Strategi praktis yang bisa langsung diterapkan di rumah
- Akses fleksibel, belajar kapan saja sesuai waktu Anda
Pertanyaan Seputar Terapi Remedial
1. Apa itu terapi remedial?
Terapi remedial adalah pendampingan belajar khusus yang menyesuaikan metode dengan kesulitan spesifik anak agar ia dapat mengejar ketertinggalan.
2. Apa bedanya terapi remedial dan les biasa?
Les biasa mengulang materi umum, terapi remedial menyasar akar kesulitan anak dengan metode yang dipersonalisasi.
3. Apa contoh kegiatan terapi remedial?
Latihan membaca multisensori, permainan bunyi dan suku kata, menulis bertahap, serta berhitung dengan benda konkret.
4. Anak seperti apa yang membutuhkannya?
Anak dengan disleksia, disgrafia, diskalkulia, ADHD, atau yang tertinggal pada keterampilan dasar tertentu.
5. Apakah terapi remedial efektif untuk disleksia?
Ya, terutama bila dimulai sejak dini dengan pendekatan multisensori yang konsisten.
6. Berapa lama terapi remedial dilakukan?
Bergantung kebutuhan anak dan dievaluasi berkala; sebagian butuh beberapa bulan, sebagian lebih lama.
7. Apakah orang tua perlu terlibat?
Sangat perlu. Latihan sederhana di rumah membuat kemajuan anak lebih konsisten.
8. Apakah kegiatannya membebani anak?
Tidak, justru dibuat menyenangkan agar anak tetap termotivasi.
9. Bagaimana tahu anak butuh terapi remedial?
Bila ada kesenjangan antara kemampuan dan pencapaian belajar; asesmen akan memastikannya.
10. Di mana bisa mengikuti terapi remedial?
Di klinik tumbuh kembang atau learning center yang menyediakan layanan pendampingan anak.
Konsultasi Bersama dr. Kristiantini
Kalau les biasa belum membantu, mungkin anak butuh pendekatan yang berbeda. Tim dr. Kristiantini Learning Center siap membantu. Anda bisa berkonsultasi langsung via WhatsApp, mengikuti eCourse pendampingan anak, atau menjadwalkan screening dan asesmen serta terapi bersama kami.
Ditulis oleh dr. Kristiantini Dewi, Sp.A, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia.





