Dalam praktik tumbuh kembang anak, disleksia hampir tidak pernah hadir sebagai kondisi yang berdiri sendiri. Banyak orang tua awalnya datang dengan keluhan kesulitan membaca, namun seiring proses evaluasi, ditemukan tantangan lain yang menyertai. Kondisi inilah yang dikenal sebagai komorbiditas atau kondisi penyerta. Memahami komorbiditas menjadi langkah penting agar pendampingan anak tidak dilakukan secara parsial, melainkan menyeluruh.
Disleksia dan Komorbid: Sebuah Keniscayaan
Pada kasus disleksia, komorbiditas bukanlah pengecualian, melainkan kenyataan yang sering ditemui. Jarang sekali disleksia muncul secara tunggal tanpa disertai kondisi lain. Sebagian besar anak dengan disleksia juga menunjukkan tantangan pada area perhatian, regulasi emosi, atau perilaku. Salah satu komorbid yang paling sering menyertai disleksia adalah Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Kedua kondisi ini kerap muncul bersamaan dan saling memengaruhi, baik dalam proses belajar maupun dalam keseharian anak.
ADHD dan Pola Komorbiditas yang Kompleks
ADHD sendiri dikenal sebagai kondisi dengan tingkat komorbiditas yang tinggi. Lebih dari 50% kasus ADHD diketahui memiliki lebih dari satu kondisi komorbid. Artinya, anak dengan ADHD sering kali tidak hanya menghadapi satu tantangan perkembangan.
Komorbid yang paling sering ditemukan pada ADHD adalah Oppositional Defiant Disorder (ODD) dan Conduct Disorder (CD). Pada beberapa kasus, ADHD juga dapat berkomorbid dengan Bipolar Disorder, terutama ketika terdapat gangguan regulasi emosi yang signifikan. Kondisi-kondisi ini tidak muncul secara kebetulan. Sebaliknya, ada pola biologis yang mendasarinya.
Peran Faktor Genetik yang Saling Tumpang Tindih
Penelitian menunjukkan bahwa berbagai gangguan perkembangan dan perilaku memiliki marker genetik yang saling overlap. Dengan kata lain, gen yang berperan dalam munculnya disleksia dapat pula beririsan dengan gen yang memengaruhi ADHD, ODD, atau gangguan mood.
Karena adanya tumpang tindih genetik ini, seorang anak dapat menampilkan berbagai gejala yang tampak berbeda, namun sebenarnya berasal dari jalur biologis yang saling berkaitan. Pemahaman ini membantu menjelaskan mengapa satu diagnosis sering kali tidak cukup untuk menggambarkan kondisi anak secara utuh.
Dampak Komorbiditas terhadap Kehidupan Anak
Komorbiditas dapat memperberat tantangan yang dihadapi anak jika tidak dikenali dengan tepat. Kesulitan belajar dapat bercampur dengan masalah perilaku dan emosi, sehingga anak berisiko disalahpahami sebagai tidak kooperatif atau kurang disiplin.
Namun, ketika kondisi komorbid dikenali sejak dini, pendekatan pendampingan dapat disesuaikan. Anak tidak hanya dibantu dari sisi akademik, tetapi juga didukung dalam regulasi emosi dan perilaku.
Pentingnya Pendekatan yang Menyeluruh
Memahami bahwa disleksia sering disertai komorbiditas membantu orang tua dan pendamping melihat anak secara lebih utuh. Anak bukan sekadar “sulit membaca” atau “sulit fokus”, melainkan individu dengan profil perkembangan yang kompleks.
Pendekatan yang menyeluruh, empatik, dan berbasis pemahaman medis akan membantu anak bertumbuh dengan dukungan yang tepat, sekaligus mencegah intervensi yang keliru atau tidak sasaran.





